PASAR BEBAS

BANYAK di antara kita terpaku pada bapak pasar bebas dan persaingan bebas,
sekaligus sebagai bapak ilmu ekonomi, Adam Smith (1723-1790), dengan bukunya An
Inquiry into Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776). Menurutnya,
pasar bebas berdasar kebebasan inisiatif partikelir (freedubaiportdom of private
initiative) akan melahirkan efisiensi ekonomi maksimal melalui pengaturan
“tangan tak tampak” (invisible hand).

Pengaturan oleh “tangan tak tampak” adalah pengaturan melalui mekanisme bebas
permintaan dan penawaran, atau mekanisme pasar bebas berdasar free private
enterprise, yang oleh Paul Samuelson, pemenang hadiah Nobel bidang Ekonomi
(1970), disebut competitive private-property capitalism.

Para ekonom meyakini keabsahan teori Adam Smith ini. Di Indonesia, topik pasar
bebas dan persaingan bebas sebagai bentuk pasar ideal terpampang resmi dalam
silabus Pengantar Ilmu Ekonomi sebagai academic blue-print dari konsorsium ilmu
ekonomi. Topik ini merupakan bagian dari kuliah wajib yang harus diikuti oleh
mahasiswa di fakultas ekonomi di Indonesia yang menganut sistem demokrasi
ekonomi.

Dalam bidang ekonomi, reformasi tidak mencapai hasil karena keengganan
mengoreksi kebijakan dan strategi yang keliru, termasuk teori yang
mendasarinya. Para teknokrat bersikukuh tidak ada yang salah dalam teori
ekonomi yang diacu untuk menyusun kebijakan. Menurut mereka, yang salah adalah
pelaksanaannya.

Tak ayal, pemenang hadiah Nobel bidang ekonomi (2001), Joseph E Stiglitz,
secara tegas menyatakan, “Textbook economics may be fine for teaching students,
but not for advising governments… since typical American style textbook
relies so heavily on a particular intellectual tradition, the neoclassical
model.” (Chang Ha-Joon, Stiglitz and the World Bank: The Rebel Within,
2001:130).

Teori Imajiner

Tiga ciri pasar persaingan sempurna (perfect competition), bebas keluar/masuk
(free entry/free exit), jumlah besar (large number), dan produk homogen
(homogeneous product), telah dihafal oleh mereka yang mempelajari ilmu ekonomi
tanpa menyadari bahwa dalam free entry/free exit terkandung paradigma
liberalisme-yang dalam tata pi-kir Indonesia tidak sesuai dengan hakikat
Demokrasi Ekonomi.

Free entry yang berarti bebas masuk kegiatan usaha apa pun berarti bebas
menggusur yang lain dengan daya saingnya yang lebih tangguh dan unggul,
sedangkan free exit berarti terpaksa exit (bangkrut atau kalah bersaing).

Teori pasar dengan persaingan sempurna dikembangkan secara fantastis. Distorsi
pasar, baik teknis, kelembagaan, maupun sosio-kultural, oleh text-book
diasumsikan tidak ada; yang dikatakan sebagai alasannya ialah for the sake of
simplicity.

Pengembangan teori berjalan berdasar validitas teoretikal, yakni asumsi di atas
asumsi dan aksioma di atas aksioma. Padahal paradigma seperti yang dikemukakan
oleh ekonom dari Inggris, Joan Robinson (1903-1983), telah mengelabui kita
dalam pengembangan teori ekonomi.

Teori yang ada dapat saja berkembang konvergen, tetapi bisa semakin divergen
terhadap realitas. Para pengabdi ilmu-yang belum tentu adalah pengabdi
masyarakat-dapat saja terjebak ke dalam divergensi ini.

Banyak ekonom dan para analis moneter menjadi simplistis mempertahankan ilmu
ekonomi Barat ini dengan mengatakan bahwa kapitalisme telah terbukti menang,
sedangkan sosialisme telah kalah telak.

Pandangan yang penuh mediokriti ini mengabaikan proses dan hakikat perubahan
yang terjadi, mencampuradukkan antara validitas teori, viability sistem
ekonomi, kepentingan dan ideologi (cita-cita), serta pragmatisme berpikir.

Adam Smith kelewat yakin akan kekuatan persaingan. Teori ekonominya (teori
pasar berdasar hipotesis pasar bebas dan persaingan sempurna), sempat mendikte
umat manusia sejagat dalam abad ini untuk terus “bermimpi” tentang kehadiran
pasar sempurna.

Lalu lahirlah berbagai kebijakan ekonomi, baik nasional maupun global,
berdasarkan pada teori pasar bebas dan persaingan sempurna. Teori imajiner yang
dikemukakan oleh Adam Smith hingga kini dianut sebagai “pedoman moral” demi
menjamin kepentingan tersembunyi para partikelir.

Globalisasi dan IMF

Keprihatinan pada pasar bebas dan persaingan sempurna menemukan momentumnya
ketika beberapa negara di Asia dilanda krisis moneter (1997). Krisis moneter
ini menyadarkan kita dari “mimpi” Adam Smith bahwa teori pasar bebas berdasar
freedom of private initiative dan globalisasi sesungguhnya tidak bekerja untuk
menciptakan stabilitas ekonomi global. Sebaliknya, kebijakan globalisasi
cenderung menjadi momok bagi negara berkembang.

Bagi sebagian orang, ada jawaban yang mudah: tinggalkan globalisasi. Tetapi hal
ini tidaklah mungkin, sebab globalisasi juga membawa sejumlah
manfaat-keberhasilan Asia Timur didasarkan pada globalisasi, khususnya peluang
perdagangan dan meningkatnya akses ke pasar global serta sains dan teknologi.

Masalahnya bukan pada globalisasi itu sendiri, tetapi bagaimana globalisasi
tersebut dikelola secara wajar dan fair. Lebih lanjut, Joseph E Stiglitz
melalui bukunya Globalization and Its Discontents (2002) menegaskan bahwa
sebagian besar permasalahan ada pada lembaga ekonomi dunia seperti IMF, Bank
Dunia, dan WTO.

Lembaga inilah yang membantu membuat aturan mainnya (berdasarkan kepentingan
dan ideologi politiknya). Mereka melakukannya dengan cara yang acap kali
mendahulukan ke- pentingan negara industri maju daripada negara berkembang.

Upaya IMF yang kurang berhasil pada tahun 1990-an menimbulkan pertanyaan
mendasar mengenai cara lembaga restrukturisasi finansial dunia ini memandang
globalisasi sebagai bagian dari misinya. IMF, misalnya, yakin bahwa ia telah
menjalankan tugasnya, yakni mendorong stabilitas global serta membantu negara
berkembang yang sedang dalam transisi untuk mencapai stabilitas dan pertumbuhan
ekonomi.

Namun, berbagai pihak menilai bahwa IMF telah gagal dalam misinya. Kegagalan
tersebut bukan hanya kebetulan, namun sebagai akibat dari pemahaman terhadap
misinya yang keliru (baca: salah).

Ucapan Presiden General Motors (GM), Charles E Wilson, “Apa yang baik untuk GM
adalah baik untuk negeri ini,” menjadi simbol kapitalisme Amerika Serikat.

IMF juga memiliki cara pandang yang sama: “apa yang dipandang baik oleh
komunitas keuangan global adalah baik untuk perekonomian global dan harus
dilakukan.”

Dalam beberapa hal benar, tetapi dalam banyak hal tidaklah demikian. Pada sisi
lain, apa yang dianggap komunitas global sebagai kepentingannya sebenarnya
tidak demikian karena ideologi pasar bebas telah menutupi pemikiran yang jernih
tentang bagaimana cara terbaik mengatasi penyakit ekonomi.

Ada konsistensi logika dalam konsepsi John Maynard Keynes (1883-1946),
godfather intelektualnya IMF, mengenai IMF dan perannya. Keynes
mengidentifikasi kegagalan pasar-yang merupakan alasan mengapa pasar tidak bisa
dibiarkan berjalan sendiri-dapat diperbaiki melalui tindakan kolektif berskala
global. Kegagalan pasar lainnya, dalam krisis yang buruk kebijakan moneter
dapat tidak efektif seperti krisis yang melanda Indonesia pada 1997/1998.

Keynes tidak hanya mengidentifikasi sejumlah kegagalan pasar, namun juga
menjelaskan mengapa sebuah lembaga seperti IMF dapat mengatasi masalah. Cara
yang ditempuh IMF ialah dengan menekan pemerintah untuk mempertahankan
perekonomiannya pada tingkat kesempatan kerja penuh.

Dalam hal ini IMF juga memberikan bantuan likuiditas bagi negara yang mengalami
krisis dan tidak mampu melakukan kenaikan yang signifikan dalam pengeluaran
pemerintah, sehingga aggregate demand secara global dapat ditopang.

Berdasarkan pada perspektif ekonomi mikro, munculnya pandangan yang menghendaki
Indonesia segera melepaskan diri dari perikatannya dengan IMF. Pandangan ini
didasarkan pada anggapan bahwa kelanjutan ikatan dengan lembaga ini hanya akan
merugikan Indonesia. Ketika krisis moneter melanda Indonesia (1997/ 1998), kita
terpaksa menjadi pasien IMF-yang kemudian menimbulkan kontroversi dalam
masyarakat.

Bahwa manfaat yang diberikan perikatan dengan IMF tersebut, jauh lebih kecil
dari kerugian yang akan diderita bangsa Indonesia bersama generasi selanjutnya.
Selain terjadi ketergantungan semakin kuat kepada lembaga keuangan ini, ekonomi
Indonesia ternyata berkembang ke arah yang salah-satu hal yang secara
simplistis sesungguhnya pernah diakui oleh petinggi IMF sendiri-di samping
menjadikan Indonesia sebagai negara pengutang terbesar di dunia.

Tetapi sekarang ini para fundamentalis pasar yang mendominasi IMF percaya,
bahwa pasar pada umumnya berjalan dengan baik dan pemerintah pada umumnya
berjalan dengan sangat buruk. Inkonsistensi di tubuh IMF bermasalah bila
dipandang dari perspektif kemajuan teori ekonomi dalam tiga dasawarsa terakhir.
Profesi ekonomi telah mengembangkan sebuah pendekatan yang sistematik terhadap
“teori kegagalan pasar akibat tindakan pemerintah” ini.

Harapan dan Kenyataan

Rasanya kita perlu mengingat kembali kepada pemenang Nobel bidang Ekonomi
(1974), Gunnar Myrdal (1898-1987), melalui karya monumentalnya, An American
Dilemma: the Negro problem and modern democracy (1944), sebuah studi sosiologi;
dan Asian Drama: an inquiry into the poverty of nations (1968), yang membahas
masalah ekonomi di negara berkembang.

Melalui kedua masterpiece-nya ini, Myrdal membahas prinsip kausalitas
kumulatif, interaksi variabel ekonomi dengan non-ekonomi, dan sederet sumbangan
penting lainnya dalam teori ekonomi-politik. Namun kontribusi utama Myrdal
dalam teori ekonomi ialah tentang penajaman perbedaan antara perkiraan (ex
ante) dan kenyataan (ex post).

Adakah korelasi antara teori Myrdal dan globalisasi? Dalam konteks sosial,
ekonomi-politik, kultural, dan hukum terdapat hubungan saling silang yang
sangat menarik. Ada keterkaitan antara harapan dan kenyataan. Myrdal mengangkat
teori ekonomi dari persamaan dengan ilmu mekanika klasik dan menempatkannya
dalam suatu tataran tersendiri.

Ada aspek lain yang lebih penting dalam pembedaan antara ex ante dan ex post,
yakni membedakan perubahan “terantisipasi” dengan perubahan yang “tidak
terantisipasi.” Karena itu, pembentukan ekspektasi dalam ketidakpastian dapat
dibagi atas dua bagian, yaitu ex ante (penghitungan awal suatu periode) dan ex
post (penghitungan pada akhir periode).

Namun yang terpenting pada semua pendekatan dalam teori ekonomi yang mengandung
unsur ketidakpastian juga terbagi atas dua kelompok, yakni pendekatan ex ante
yang menerangkan bagaimana ekspektasi menentukan besaran variabel ekonomi serta
pendekatan ex ante dan ex post yang sekaligus menjelaskan perbedaan antara
harapan dan kenyataan.

Dengan mengusung teori Myrdal ini timbul pertanyaan di hadapan kita demikian:
apakah pasar bebas dalam globalisasi memiliki aspek lain yang lebih penting
dalam pembedaan antara ex ante dan ex post, yakni perbedaan antara harapan dan
kenyata- an?

Penulis adalah pemerhati ekonomi-politik dan seorang editor

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: